9.10.2009

9.9.9

http://999itstime.org/images/logo_999_big.gif


Its 9-9-9 on 10-9-9. Told you, I'm different.. :P

Yes, indeed. Its time! For what ?


(flashback, around early 2008)

Its time to get married! Perfect date, isnt it ?
And I still have those archives on the wedding plan.


(now, 2009)

Physically unwell, mentally as well.
Physically, still undergo some chiropractice therapies.
Mentally, hmm.. still stuck in my own head.


(future, -)

I wish I have a time machine, just to walk pass the time. From time to time.
Doraemon.. hello, are you there ? :-)

7.28.2009

Time Flies

indeed
time flies
its been almost a year since my last posting
fiuhhh..

7.30.2008

What is Your 'Work Music' ?


-http://www.anggunworld.com/eng/photo.asp?ID=648-


Mine is from Anggun.
Her music kinda make me lifted up.
Always works on my working hours.

Whats yours ?

7.28.2008

WANTED

- http://en.wikipedia.org/wiki/Wanted_(film) -


Film yang berkisah tentang sebuah perkumpulan pembunuh, The Fraternity, yang bertugas untuk menjaga keseimbangan dunia. Kill one, saves a thousand. Begitulah semboyannya. Sampai suatu ketika seorang dari mereka berkhianat dan berbalik memburu mereka. Pengkhianat, Cross (Thomas Kretschmann), ini membunuh satu per satu dari anggota The Fraternity. Sampai ketika Cross membunuh Mr. X (David O'hara) yang terkenal sebagai pembunuh lihai, Sloan (Morgan Freeman), pemimpin dari The Fraternity, mulai melacak Wesley Gibson (James McAvoy). Diceritakan, Wesley adalah anak dari Mr. X, dan Sloan memberitahu Wesley siapa pembunuh ayahnya. Cerita ini membuat Wesley mendendam kepada Cross. Dan ketika Wesley mendapat tugas untuk membunuh Cross, Wesley baru menyadari bahwa Sloan menipunya untuk dapat membunuh Cross, karena Wesley sebenarnya adalah anak Cross. Wesley kemudian menyerang markas The Fraternity dengan taktik menyebarkan seribu tikus yang dipasangi peledak. Ketika berhadapan dengan Sloan, Wesley tidak berhasil membunuhnya. Namun beberapa waktu kemudian, Wesley berhasil membunuh Sloan dengan taktik yang sama Cross membunuh Mr. X.

--

Filmnya sebenarnya biasa aja, cuma action sana-sini, jalan ceritanya juga predictable. Cuma ada satu line, plus satu scene yang rada nyentil. Ketika Wesley bertanya, 'apa yang sudah kamu lakukan untuk dunia ?' or something like that-lah. Adegannya juga pas Wesley googling namanya sendiri dan tidak ada hasil. Itu yang aku bawa pulang setelah nonton film ini, meski pulangnya baru sekian jam setelah film selesai ;) Hehehe..

Again, what can you do for the world ?

7.27.2008

Refleksi: Adakah Cinta untuk Indonesia ?

Ketika rutinitas dan ritual mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan kita, pernahkah terlintas dalam benak kita, adakah cinta untuk Indonesia kita ini ?. Cinta yang dimaksud disini adalah cinta yang mewujud. Bukan hanya cinta yang dipendam atau sebatas diucapkan saja.

Beberapa waktu lalu, saya mengalami kejadian yang tidak pernah terpikir bisa saya alami. Saya menjadi salah seorang korban dalam tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang hendak memaksakan kepentingan golongannya atas konstitusi negara ini. Tragedi kekerasan yang sudah melecehkan landasan negara ini, yaitu Pancasila, tepat di hari kelahirannya. Kejadian itu sangat membekas dalam diri saya, baik secara fisik maupun mental. Namun reaksi yang terjadi dalam diri saya, justru sama sekali di luar dugaan.

Sebelum mengalami tragedi, saya mengerti bahwa sebagai warga negara saya wajib mengenal bangsa dan simbol-simbol negara ini. Dan saya juga mengerti tentang nasionalisme dan bahwa saya harus menyebarkan semangat nasionalisme ini. Tragedi ini seharusnya membuat saya jera menyebarkan semangat nasionalisme ini. Karena saya berhadapan langsung dengan orang-orang yang jelas-jelas tidak memahami nasionalisme dengan menodai salah satu simbol negara, yaitu Pancasila, dengan kekerasan. Saya telah menyaksikan sekelompok orang ingin menghapuskan perbedaan, mulai dari perbedaan internal dalam agama mereka, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai perbedaan yang mewarnai Indonesia ini, dengan kekerasan. Namun reaksi yang muncul justru sebaliknya. Saya sama sekali tidak jera. Hari itu saya menyaksikan betapa Ibu Pertiwi ini sudah dinodai. Hari itu saya telah menyaksikan betapa bangsa dan negara ini diambang perpecahan. Saya tidak boleh jera. Tiba-tiba saya jatuh cinta kepada bangsa dan negara ini. Saya tergila-gila untuk tetap menyuarakan kecintaan saya kepada Indonesia kita ini.

Rasa cinta yang mengubah keseharian saya, ritual dan rutinitas saya, menjadi sebuah persembahan bagi Ibu Pertiwi. Dan rasa cinta ini terlalu besar untuk saya pendam sendiri. Saya harus berbagi. Berbagi ‘suara’, baik lisan maupun tulisan. ‘Suara‘ yang lembut namun tegas. ‘Suara’ yang akan membuat sekelompok orang di luar sana, yang memiliki agenda atau skenario apapun untuk mengganti Pancasila, memecah belah persatuan bangsa, atau memaksakan kehendak golongan atas konstitusi negara ini, berpikir dua kali. ‘Suara’ yang akan mempertahankan Pancasila sebagai landasan negara, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, dan menjunjung tinggi konstitusi negara ini. ‘Suara’ yang akan tetap melawan tanpa kekerasan.

Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke 63 tahun, masih adakah cinta untuk Indonesia kita ini ? Cinta yang mewujud dalam keseharian, dalam menghadapi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang menghadang. Semua diawali dari diri sendiri, dari diri anak bangsa yang mencintai Ibu Pertiwinya.

7.01.2008

Love Letter to Habib Rizieq and Munarman, from a Survivor of Monas Tragedy *

May peace be upon both of you.

I hope I am not crossing the line when I am hoping that peace may be upon both of you. Because I know first hand that you both have no peace in yourselves. And how would I know ? From Monas tragedy, June 1st, 2008. Tragedy that I witnessed with my own eyes, in fact I was one of the victim with severe injuries myself. The attack is lead by Mr. Munarman and might have ‘known’ also by Mr. Habib. From the tragedy, I know for sure that peace is not exist inside both of you.

The tragedy cause me and several of our brothers and sisters injured badly. Physical wound may be healed, mental trauma can also be handled with therapies. But the way I see it, it is both of you that hurt so badly. I have never been seen such hatred and anger in a human. And I can’t imagine how much burden you have to carry all this time. Your hatred, your anger and violance that follow can eat you alive.

After all that you have done, violation to other citizens, validation of the violation in the name of a religion, diversion violation issue to religion issue which could cause nation disintegration, and insulting actions against Pancasila and Undang-Undang Dasar 1945 as our constitusion, I still appreciate both of you as Indonesians. Because, you can not deny it with any reason. Both of you, I, and also other survivors, we are brothers and sisters, we are Indonesians. We lived from this very land, we have the same bond, the same memory to this country. Although, we are born from different family religon background, just like you were born in Muslim family and I was born in Hindu family, just like you are Men and I am a Woman, I believe there is one thing we have in common, which is we are Indonesians.

The thing is that differences is unevitable, it is a certainty. There is nothing you can possibly do to eliminate it. Including difference between sectes in a religion, let say the one which is almost be bended, thanks to Mr. Munarman’s silly threat, and now their lives is threatened. I, personally, do not support or defending that sect, because clearly I am not the right person to give any comments about the internal religion issues. Nevertheless, the existance of that sect and your radical sect is the same. Both are having its pro and contra since a long time ago. But it is only your radical sect that ever threatening the existance of other sects, even it is proven that your group did an disturbing action to the society order and public security, also harassing the government and its leader, The President of Indonesia Republic.

Pancasila with ‘Bhineka Tunggal Ika’ slogan is the one that unite this country. Our country consist of thousands of islands, many different tribe, race and religion, can be united for many years by Pancasila. Again, this is not one thing you can deny. The very existance of Indonesia is the real prove of it. Whatever you have planned to eliminate that differences, start from diverting violance issue to religion issue with attempt to bend them until attempts to change our way of life in this country from Pancasila to a certain religon-based, is not going to be an easy way. Just like in Monas tragedy which you try to divert it into religion issue, my existance as a Hindu women, who wanted to celebrate the birthday of Pancasila in Monas at that time, who got assaulted and injured, is breaking all of your attempts of diversion. I am sure that, other than myself, there are more people who love peace and able to see beauty in differences.

The next question is, what is it with you and differences ? Why are you so scared of it ? If I am not mistaken, differences is blessing from God, according to your bible, right ?

Therefore, I suggest you to start to have some peace in yourselves. Manage you hatred and your anger in healthier ways, such as singing and dancing. I guarantee, you will find beauty everywhere. And you will find the beauty in differences which previously always set your bear on fire. Oh by the way, if you are finished with yourselves, do not forget to spread it among your group. Indonesia will be much better without hatred and violation from you and your group.

Peace and Cheers Always,

Nyoman Aisanya Wibhuti


* Also published in The Jakarta Post online

6.26.2008

Surat Cinta untuk Habib Rizieq dan Munarman dari Korban Tragedi Monas

Salam damai.
Semoga damai selalu menyertai Bapak berdua.

Semoga saya tidak terlalu lancang mendoakan kedamaian untuk Bapak berdua. Karena saya tahu belum ada kedamaian di dalam hati Bapak berdua. Darimana saya tahu ? Dari tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri dan bahkan sempat menjadi salah satu korban yang memerlukan perawatan intensif. Penyerangan yang dipimpin langsung oleh Bapak Munarman dan ‘mungkin’ diketahui oleh Bapak Habib. Dari tragedi itulah saya mengetahui belum ada kedamaian dalam diri Bapak berdua.

Tragedi itu membuat saya dan beberapa saudara sebangsa kita terluka. Luka fisik kami dapat sembuh, trauma mental kami dapat kami atasi dengan berbagai macam terapi. Namun saya melihat Andalah yang paling terluka diantara kami semua. Saya belum pernah melihat kebencian dan amarah sehebat itu dalam diri seorang manusia. Dan saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya Anda menanggung semua beban itu. Kebencian Anda, amarah Anda, dan kekerasan yang muncul karenanya dapat memakan anda hidup-hidup.

Terlepas dari semua yang telah Anda lakukan, kekerasan tanpa pandang bulu, pembenaran kekerasan tersebut atas nama agama, pengalihan isu kekerasan menjadi isu agama yang berpotensi memecah belah kesatuan kita sebagai sebuah bangsa, dan upaya-upaya penghinaan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, saya tetap menghargai anda sebagai sebagai manusia Indonesia. Karena apapun konsep yang Anda gunakan untuk menafikan hal tersebut, Anda, para korban, kita semua tetap saudara sebangsa, bangsa Indonesia. Kita sama-sama hidup dari bumi pertiwi ini, kita sama-sama mempunyai kenangan, ikatan terhadap tanah air kita ini. Meski terlahir dari latar belakang yang berbeda, seperti Anda yang terlahir dari keluarga Muslim dan saya yang terlahir dari keluarga Hindu, seperti Anda lelaki dan saya perempuan, saya meyakini satu persamaan di antara kita yaitu, kita sama-sama orang Indonesia.

Perbedaan kita adalah sebuah kepastian. Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk menghapus kenyataan tersebut. Begitu juga dengan perbedaan yang lain, katakanlah perbedaan dengan aliran lain, yang berkat ancaman ‘kekanakan’ Bapak Munarman, kelompok minoritas tersebut sekarang terancam jiwanya. Saya tidak mendukung atau membenarkan aliran tersebut, karena jelas saya bukan orang yang tepat untuk memberikan pendapat mengenai hal tersebut. Namun keberadaan kelompok minoritas tersebut dengan kelompok Anda berdua adalah sama. Keduanya menuai pro dan kontra dari sejak lama. Namun selain kelompok Anda, tidak ada kelompok lain yang mengancam keberadaan kelompok lain dan bahkan sekarang kelompok Anda adalah satu-satunya kelompok yang terbukti telah sering kali mengganggu ketertiban dan keamanan umum serta melecehkan aparatur negara bahkan Presiden RI.

Pancasila dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ adalah pemersatu bangsa. Kondisi bangsa kita yang terdiri dari beribu pulau, beragam suku, ras dan agama, dapat dipersatukan selama puluhan tahun oleh kesaktian Pancasila. Lagi-lagi, kenyataan ini tidak dapat Anda nafikan karena keberadaan Indonesia saat ini ada bukti nyata. Apapun skenario yang Anda punya untuk menghapus perbedaan itu, mulai dari mengalihkan isu kekerasan menjadi isu pembubaran aliran agama tertentu sampai dengan menyebarkan isu penggantian landasan negara ini dengan landasan agama tertentu, sepertinya tidak akan berjalan mulus tanpa hambatan. Seperti pada tragedi Monas yang Anda coba alihkan menjadi isu agama, keberadaan Saya, perempuan yang beragama Hindu, yang sedang merayakan hari kelahiran Pancasila, yang tak luput dari serangan, mematahkan semua isu yang Anda coba munculkan. Begitu pula kalau Anda mencoba mengangkat isu penggantian landasan negara kita ini. Saya yakin, selain Saya sendiri, lebih banyak masyarakat yang mencintai perdamaian dan mampu melihat keindahan dalam perbedaan.

Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, apa yang Anda takutkan dari perbedaan ? Dan mengapa Anda takut sekali akan perbedaan ? Perbedaan adalah rahmat dari Tuhan, jika saya tidak salah mengutip dari kitap suci Anda.

Maka dari itu, saya sarankan Anda berdua untuk mulai berdamai dengan diri Anda masing-masing. Olah kebencian dan amarah Anda dengan cara yang lebih sehat, misalnya dengan bernyanyi dan menari. Kemudian bernyanyi dan menari untuk ke-Indonesia-an kita. Niscaya, Anda akan temukan sesuatu yang lebih indah. Dan perbedaan yang selama ini selalu memicu jenggot Anda untuk terbakar, akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih indah. Oh iya, setelah Anda selesai dengan diri Anda sendiri, jangan lupa untuk menyebarkan keindahan yang Anda temukan kepada seluruh laskar Anda. Indonesia akan menjadi jauh lebih indah tanpa kebencian dan kekerasan dari Anda dan seluruh laskar Anda.

Salam cinta dan damai untuk Anda berdua.


Nyoman Aisanya Wibhuti